Sunday, October 16, 2016

Kisah Sebatang Pensil


Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya,

"Apakah nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita itu tentang aku?"

Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya,

"Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata-kata yang sedang nenek tulis, yakni pensil yang nenek gunakan. Mudah-mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti."

Si anak lelaki merasa heran, diamati-amatinya pensil itu kelihatannya biasa saja.

"Tapi pensil itu sama saja seperti pensil-pensil yang lain yang pernah kulihat!"

"Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidup."

"Petama, kau sanggup melakukan hal-hal besar, tapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutkannya tangan Tuhan, dan Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.


"Kedua: sesekali nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.


"Ketiga: yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung dalam dirimu.

"Dan akhirnya, yang kelima: pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tau bahwa segala sesuatu yang kaulakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu."

Diambil dari "Sungai yang mengalir" karya Paulo Coelho

No comments:

Post a Comment