Seorang hartawan berkata :
"Aku belum pernah merasa terganggu, karena aku salah satu orang terkaya di dunia. Aku jalani hidup ini dengan normal, tunggal di flat sederhana bersama istriku. Aku tidak suka minuman keras, tidak suka merokok, dan tidak suka hidup seperti layaknya seorang konglomerat yang gambar-gambar mereka termuat diberbagai harian dengan yacht-yacht mereka yang mewah dan villa megahnya yang terdapat di daerah pedalaman, dan kehidupan mereka yang berlimpah dengan kesenangan bersama istri-istri mereka yang terdiri dari wanita- wanita cantik, yang bila salah satu dari mereka diceraikan, biasanya menuntut jutaan dolar sebagai kompensasinya.
Aku suka dengan pekerjaanku dan merasa bahagia dengannya. Aku suka membawa makananku ditempat kerjaku untuk disantap disana. Aku tidak pernah merasa senang dan bahagia bila kubayangkan bahwa harta milikku ternyata berjumlah milyaran dolar. Akan tetapi, aku baru merasa bahagia bila teringat bahwa ternyata hasil karyaku telah berhasil mengubah kota kelahiranku, yaitu Tokyo, dengan jalan-jalannya yang semula sederhana menjadi ibu kota besar pusat perhatian dunia dengan gedung-gedung pencakar langitnya yang telah kutuntaskan penyelesaiannya. Singkatnya, dapat kukatakan bahwa kebahagianku terletak pada keberhasilan pelaksanaan pekerjaanku."
Cerita indah diatas, saya ambil dari buku karangan DR. Aidh Bin Abdullah Al- Qarni, yang berjudul "jadilah wanita yang paling bahagia".
Saya sangat terinspirasi dengan cerita diatas, seorang hartawan dari jepang memilih hidup sederhana dan sangat menghargai sebuah proses dalam mengerjakan pekerjaan - bukan hasil yang ia raih.
Patut untuk dicontoh
"Aku belum pernah merasa terganggu, karena aku salah satu orang terkaya di dunia. Aku jalani hidup ini dengan normal, tunggal di flat sederhana bersama istriku. Aku tidak suka minuman keras, tidak suka merokok, dan tidak suka hidup seperti layaknya seorang konglomerat yang gambar-gambar mereka termuat diberbagai harian dengan yacht-yacht mereka yang mewah dan villa megahnya yang terdapat di daerah pedalaman, dan kehidupan mereka yang berlimpah dengan kesenangan bersama istri-istri mereka yang terdiri dari wanita- wanita cantik, yang bila salah satu dari mereka diceraikan, biasanya menuntut jutaan dolar sebagai kompensasinya.
Aku suka dengan pekerjaanku dan merasa bahagia dengannya. Aku suka membawa makananku ditempat kerjaku untuk disantap disana. Aku tidak pernah merasa senang dan bahagia bila kubayangkan bahwa harta milikku ternyata berjumlah milyaran dolar. Akan tetapi, aku baru merasa bahagia bila teringat bahwa ternyata hasil karyaku telah berhasil mengubah kota kelahiranku, yaitu Tokyo, dengan jalan-jalannya yang semula sederhana menjadi ibu kota besar pusat perhatian dunia dengan gedung-gedung pencakar langitnya yang telah kutuntaskan penyelesaiannya. Singkatnya, dapat kukatakan bahwa kebahagianku terletak pada keberhasilan pelaksanaan pekerjaanku."
Cerita indah diatas, saya ambil dari buku karangan DR. Aidh Bin Abdullah Al- Qarni, yang berjudul "jadilah wanita yang paling bahagia".
Saya sangat terinspirasi dengan cerita diatas, seorang hartawan dari jepang memilih hidup sederhana dan sangat menghargai sebuah proses dalam mengerjakan pekerjaan - bukan hasil yang ia raih.
Patut untuk dicontoh
No comments:
Post a Comment